MAKALAH EVOLUSI
Tentang
BUKTI EVOLUSI
Disusun
Oleh :
KELOMPOK
3
AYU WANDIRA (15010076)
SOPIA
NURMALA (15010091)
NANDA
MEIRESTI (15010093)
ARIYESTI (15010089)
RIMA CHANIA (15010089)
TRISA
HARDINI (15010075)
YULIA
MAIHERTATI (15010078)
Sesi C/2015
Dosen Pembimbing : Fachrul Reza,
M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2018
KATA
PENGANTAR
Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan hidayah Nya kami bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tugas ini dikerjakan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Evolusi dengan judul “Bukti Evolusi”.
Di dalam Tugas ini terdapat banyak kekurangan, untuk itu kami ingin mengucapkan permohonan maaf yang
sebesar-besarnya. Kritik dan saran akan kami
terima sebagai suatu masukan yang baik untuk kami kedepannya.
Tidak lupa
kami sampai kan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, mudah-mudahan semua bantuannya diberikan balasan yang terbaik oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk itu,
sekali lagi
kami ucapkan maaf
yang sebesar-besarnya, mudah-mudahan tugas ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih
Padang,
April 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................ 2
1.3 Tujuan........................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Biogeografi Sebagai Petunjuk Evolusi........................................ 4
2.2 Fosil................................................................................................ 5
2.3 Analogi
dan Homologi Makhluk Hidup...................................... 8
2.4 Embriologi
Perbandingan............................................................ 9
2.5 Biomolekuler
Sebagai Petunjuk Evolusi..................................... 11
2.6 Variasi
Sebagai Petunjuk............................................................. 12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................... 13
3.2 Saran.................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Evolusi
merupakan bangunan ilmu terbesar, dan perkembangannya sangat luas. Meliputi
pokok bahasan yang beragam dan terdapat bagian-bagian yang agak ditakutkan.
Para ahli biologi evolusi sekarang meneliti evolusi dari berbagai disiplin
ilmu, seperti genetika molekuler, morfologi dan embriologi. Mereka juga bekerja
dengan peralatan yang beragam seperti dengan larutan kimia di dalam tabung
reaksi, tingkah laku hewan di hutan rimba, fosil yang dikoleksi dari
daerah-daerah purbakala dan batu-batu karang atau gunung-gunung batu.
Selama lebih
dari seratus tahun,
argumen pro dan
kontra terhadap teori evolusi telah diteliti dan
diperdebatkan. Untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa proses evolusi
itu ada, dapat
dilakukan pendekatan terhadap
kenyataan/fakta yang ada di
sekitar kita. Para ahli
berpendapat bahwa makhluk
hidup selalu mengalami perubahan
secara perlahan-lahan dalam
jangka waktu yang
lama, dalam hitungan jutaan
tahun. Perubahan-perubahan itu
dapat berjalan jauh menyimpang dari
struktur aslinya sehingga
menimbulkan spesies baru.
Jadi tumbuhan dan hewan
yang ada sekarang
ini bukanlah makhluk
hidup yang pertama menghuni bumi
ini, tetapi berasal dari makhluk hidup di masa lampau yang telah
mengalami perubahan. Sehingga
muncul pula pertanyaan
utama “bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi?”. Adanya hewan dan
tumbuhan yang beranekaragam menumbuhkan
keinginan manusia untuk
mengetahui nenek moyangnya. Dari berbagai
proses pengamatan, bukti
yang ada, dan penelitian yang
dilakukan para ahli,
akhirnya muncul suatu
teori evolusi. Berdasarkan data
atau petunjuk yang
ada, makhluk hidup
(hewan dan tumbuhan) telah
menghuni bumi jutaantahun
yang lampau. Jenis-jenis
yang hidup pada masa lampau tersebut berbeda dengan jenis yang hidup pada masa sekarang ini.
Bahkan beberapa jenis
hewan dan tumbuhan
purba saat ini telah punah, tinggal fosilnya saja.
Evolusi merupakan
proses perubahan struktur
tubuh makhluk hidup
yang berlangsung sangat lambat
dan dalam kurun
waktu yang sangat
lama. Evolusi berjalan terus
sepanjang masa. Evolusi menyebabkan
adanya keanekaragaman makhluk hidup. Teori-teori ilmiah
terbaru sering mendorong
banyak kontroversi.
Kontroversi ini mempunyai
pengaruh bermanfaat pada
kemajuan ilmiah, karenanya para
ilmuan dengan pandangan-pandangan yang
berbeda bekerja secara intensif
untuk menemukan bukti- bukti
yang dapat mendukung ide-ide mereka. Teori evolusi
organik dan teori seleksi alam (natural selection) Darwin melandasi
setiap aktivitas mereka.
Sebagai ilmuan, mereka
berusaha mencari data-data
yang dapat mendukung
ataupun dapat membuktikan
bahwa teori-teori terdahulu itu
mungkin saja tidak
benar. Bukti-bukti ilmiah
tertentu yang lebih dari
100 tahun terakhir
mendukung pemikiran Darwin,
dan merupakan bagian-bagian khusus
dari ilmu biologi
antara lain yaitu
bukti biogeografi, bukti paleontologi, bukti
anatomi perbandingan, bukti
perbandingan embriologi, dan bukti
molekuler. Beberapa prinsip
yang digunakan Darwin yang
dianggap dapat memberikan
petunjuk adanya evolusi antara lain
adanya variasi di
antara individu-individu dalam
satu keturunan, adanya pengaruh
penyebaran geografi, ditemukannya
fosil-fosil diberbagai lapisan batuan
bumi yang menunjukkan
adanya perubahan secara
berangsur-angsur, adanya homology
antara organ system
pada makhluk hidup,
adanya data sebagai hasil studi mengenai komparatif perkembangan embrio.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa Biogeografi Sebagai Petunjuk Evolusi ?
2. Apa Yang Dimaksud Dengan Fosil ?
3. Bagaimana Analogi dan Homologi Makhluk Hidup ?
4. Bagaimana Embriologi Perbandingan ?
5. Mengapa Biomolekuler Sebagai Petunjuk Evolusi ?
6. Bagaimana Variasi Sebagai Petunjuk ?
1.3
Tujuan
1. Agar Mahasiswa Mengetahui Biogeografi Sebagai
Petunjuk Evolusi.
2. Agar Mahasiswa Mengetahui Fosil.
3. Agar Mahasiswa Mengetahui Analogi dan Homologi
Makhluk Hidup.
4. Agar Mahasiswa Mengetahui Embriologi Perbandingan.
5. Agar Mahasiswa Mengetahui Biomolekuler Sebagai
Petunjuk Evolusi.
6. Agar Mahasiswa Mengetahui Variasi Sebagai Petunjuk.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biogeografi
Sebagai Petunjuk Evolusi
Biogeografi adalah mempelajari
distribusi geografi dari tanaman dan hewan. Dengan mempelajari biogeografi kita
dapat menjelaskan mengapa spesies-spesies berdistribusi, dan apa bentuk
distribusi yang diperlihatkan mengenai habitat dan daerah asal mula mereka.
Dari perjalanan Darwin mengelilingi dunia dengan H.M.S. Beagle, ia
menemukan bahwa spesies tanaman dan hewan umumnya tidak berdistribusi
jauh dari habitat yang potensial. Studi-studi mengenai biogeografi sejak Darwin
dibuktikan berulang-ulang oleh para ilmuan. (Anonim 2012)
Evolusi dapat
dilihat dari dua segi, yaitu sebagai proses historis dan cara bagaimana proses
itu terjadi. Sebagai proses historis, evolusi telah dipastikan secara
menyeluruh dan lengkap, sebagaimana yang telah dipastikan oleh ilmu tentang
suatu kenyataan mengenai masa lalu yang tidak dapat disaksikan oleh mata. Untuk
menunjukkan bukti-bukti bahwa proses evolusi itu ada, kita dapat melakukan
pendekatan terhadap kenyataan yang ada. Kenyataan-kenyataan yang ada terus
diinterprestasikan oleh para ahli dan dijadikan bahan bukti evolusi.
Para ahli
menggunakan bukti-bukti sebagai petunjuk evolusi dengan tujuan akhir ingin
mencari jawaban tentang fenomena alam, sebagaimana yang terdapat dalam buku “On
The Origin Species” karya Charles Darwin. Sebenarnya rambu-rambu untuk mencari
bukti telah ada dalam buku Darwin, sedangkan petunjuk adalah rambu-rambu untuk
memperoleh bukti, dengan alasan bahwa pendekatan monodisipliner tidak dapat
dijangkau atau dilihat dan fosil bukti tidak dapat dipakai bukti dan kurang
kuat. Hal ini karena fosil merupakan benda mati yang sudah tidak utuh dan
lengkap, sehingga interpretasi para ahli sangat dituntut ketajamannya. Apalagi
perilaku organisme yang telah memfosil sulit sekali diinterpretasi.
Untuk
menunjukkan bukti-bukti bahwa proses evolusi itu ada, kita dapat melakukan
pendekatan terhadap kenyataan/fakta yang ada di sekitar kita. Walaupun dapat
tidaknya kenyataan-kenyataan tersebut dijadikan bahan bukti adanya evolusi
tergantung dari interpretasi para pakar yang bersangkutan. Beberapa petunjuk
adanya evolusi, yaitu :
1. Peninggalan
fosil di berbagai lapisan batuan bumi.
2. Anatomi
perbandingan.
3. Adanya
alat-alat tubuh yang tersisa.
4. Bukti
biogeografi
5. Peristiwa
domestikasi.
6. Perbandingan
fisiologi.
7. Embriologi
perbandingan.
8. Variasi
antar individu dalam satu keturunan.
9. Perbandingan
genetik.
10. Petunjuk
secara biokimia.
11. Bukti
molekuler.
2.2 Fosil
Istilah fosil berasal dari bahasa
latin fodere yang berarti menggali. Fosil dapat berupa
tulang-belulang, tubuh, jejak, dan sisa makhluk hidup yang terawetkan dalam
batuan sediment. Sehingga Cuvier menyimpulkan bahwa pada masa tertentu telah
diciptakan makhluk hidup yang berbeda dari masa ke masa lainnya. Misalnya
adaptasi kuda, zebra, keledai merupakn suatu adaptasi makhluk hidup yang jutaan
tahun yang lalu merupakan hewan yang lemah, kecil berangsur-angsur menjadi
hewan yang lincah, kuat dan berlari sangat cepat .
Fosil merupakan makhluk hidup atau
sebagian dari makhluk hidup yang tertimbun oleh tanah, pasir, lumpur dan
akhirnya membatu, kadang-kadang hanya berupa bekas-bekas organisme. Umumnya
fosil yang ditemukan adalah dalam keadaan tidak utuh yaitu hanya suatu bagian
atau beberapa bagian dari tubuh makhluk. Hancurnya tubuh makhluk hidup tersebut
disebabakan oleh pengaruh angin, air, bakteri pembusuk, hewan-hewan pemakan bangkai
dan masih banyak yang lain.
Fosil dapat ditemukan diberbagai macam
lapisan bumi, sehingga penentuan umurnya didasarkan atas umur lapisan yang
mengandung fosil-fosil itu. Umumnya fosil yang terdapat di lapisan yang paling
dalam, mempunyai umur yang lebih tua sedangkan umur fosil yang ditemukan pada
lapisan yang lebih atas mempunyai umur yang lebih muda. Dengan membandingkan
fosil yang ditemukan diberbagai lapisan bumi yaitu mulai dari sederetan fosil
yang ditemukan pada lapisan bumi yang tua sampai yang muda menunjukkan adanya
perubahan yang terjadi secara berangsur-angsur, maka dapat disimpulkan bahwa
fosil merupakan petunjuk adanya evolusi. Ilmu yang mempelajari tentang fosil
yang menggungkapkan banyaknya keterangan yang membenarkan adanya evolusi adalah
Palaentologi.
Fosil binatang paling purba yang
ditemukan adalah fosil inventrebata (binatang yang tidak bertulang belakang)
primitive penghuni air. Menurut catatan Dobzhansky, “struktur tubuhnya sudah
amat rumit dan maju”. Ada yang tubuh dan kulitnya bersendi-sendi. Sesungguhnya
binatang ini adalah mahkluk yang baik adaptasinya dengan lingkunganya, yang
berupa laut tenang pada zaman kuno. Kemudian dalam batuan yang terjadi sekitar
450 juta tahun yang lalu muncullah sisa-sisa mahkluk macam baru. Mahkluk
tersebut yaitu ostrakodermata, yang rupanya mirip ikan sedangkan bentuknya
kasar. Ostrakodermata memiliki kerangka dalam, tidak memiliki rahang dan
binatang ini menyusuri dasar laut sambil menghisap makananya. Binatang ini
dikenal sebagai leluhur lampre masa kini.
Menurut Oxlay (2011), Adapun fosil-fosil
manusia purba yang ditemukan di Indonesia antara lain sebagai berikut:
a.
Pithecanthropus erectus. Tempat penemuan di Desa Trinil di pinggir sungai
Bengawan Solo di dekat Ngawi, Propinsi Jawa Timur. Orang yang menemukannya
adalah Dr. Eugene Dubois. Tahun penemuannya adalah pada tahun 1890. Fosil ini dikenal
juga dengan sebutan Manusia Jawa dan merupakan jenis manusia purba yang pertama
kali ditemukan di Indonesia.
b.
Pithecanthropus mojokertensis. Tempat penemuannya adalah di daerah Perning,
Mojokerto, Jawa Timur. Nama penemunya adalah Duyfjes dan Von Koenigswald. Tahun
penemuannya adalah pada tahun 1936. Fosil ini berupa tengkorak anak-anak yang
berusia sekitar 6 tahun dan diperkirakan hidup sekitar 1,9 juta tahun yang
lalu.
c.
Meganthropus palaeojavanicus. Tempat penemuannya di Sangiran, daerah Surakarta,
Propinsi Jawa Tengah. Nama penemunya adalah Von Koenigswald. Tahun penemuan
fosil tersebut adalah antara tahun 1936 – 1941. Fosil ini lebih besar dan lebih
tegap daripada Pithecanthropus Erectus. Usianya diperkirakan paling tua di
antara jenis manusia purba yang lain di Indonesia.
2.3 Analogi dan
Homologi Makhluk Hidup
Konsep lain dari
anatomi perbandingan yaitu analogi.
Analogi adalah menunjukkan fungsi yang sama, tetapi mempunyai struktur dasar
yang berbeda. Misalnya sayap burung dengan sayap serangga mempunyai fungsi yang
sama tetapi struktur dasarnya berbeda. Burung mempunyai kerangka tulang sayap
sedangkan serangga mempunyai sayap yang tersusun dari lapisan kitin yang keras,
tetapi keduanya berfungsi untuk terbang.
Anatomi perbandingan
yang juga diidentifikasi yakni struktur vestigial. Struktur vestigial adalah
struktur-struktur tertentu yang tidak berkembang terus pada beberapa organsime,
tetapi dalam perkembangan selanjutnya berfungsi lain. Struktur vestigial
termasuk rudimentasi, sayap pada mutan vestigial (Drosophila melanogaster)
kekurangan penglihatan pada hewan-hewan penghuni gua, gigi geraham manusia,
tulang ekor pada manusia (pada mamalia yang lain ekornya tumbuh memanjang).
Kesamaan dasar dalam
struktur yang diturunkan dari nenek moyang yang umum disebut struktur homolog. Lebih
jelasnya, homologi adalah struktur dasar sama yang diturunkan secara genetik
dari nenek moyang yang umum tetapi kemudian memiliki fungsi yang berbeda. Suatu
contoh homologi yang baik adalah tulang lengan depan vertebrata. Semua
vertebrata seperti burung, ikan paus, dan manusia mempunyai struktur dasar
tulang lengan depan yang sama kemudian melewati proses perubahan (evolusi) dari
nenek moyang yang umum, kemudian menampilkan fungsi yang berbeda.
Kesamaan anggota
gerak tidak hanya meliputi tulang, tetapi juga otot, saraf,
persendian dan pembuluh darah. Semua
kesamaan menunjukkan bahwa organ tersebut
berasal dari struktur yang
sama, dan selanjutnya berubah struktur sehingga
fungsinya berbeda. Peristiwa ini
dikenal dengan nama homologi.
2.4 Embriologi
Perbandingan
Embriologi adalah salah satu cabang ilmu yang
mempelajari pembentukan, pertumbuhan, dan
perkembangan embrio dalam
kandungan. Organisme yang
memiliki hubungan kekerabatan yang dekat akan mengalami tahapan
yang sama dalam perkembangan embrionya.
Ontogeni
adalah perkembangan individu
suatu spesies mulai
dari telur sampai
dewasa. Filogeni adalah perkembangan
spesies dalam proses
evolusinya. Pada tahap-tahap
tertentu, embrio spesies mengulangi
evolusi nenek moyangnya.
Dengan kata lain, ontogeni
merupakan rekapitulasi runutan peristiwa evolusi dalam filogeni. Sebagai contoh, adanya ekor pada tingkat awal embrio
manusia menunjukkan adanya
suatu pengulangan dari
nenek moyangnya. Catatan fosil
menunjukkan bahwa vertebrata
air bernapas dengan
insang. Bentuk kehidupan
ini sudah ada sebelum adanya
bentuk kehidupan darat yang bernapas dengan paru-paru. Berdasarkan waktu urutan
kemunculan hewan, mulai dari ikan, amfibia,
reptilia, burung sampai
mamalia. Amfibia mewakili
fase transisi. Hal ini
ditandai adanya perubahan
struktur respirasi air menjadi respirasi darat. Persamaan bentuk embrio
terdapat juga pada manusia, babi, salamander dan ikan, yaitu pada stadium perkembangan celah insang.
Pada fase ini, tangan dan kakinya masih berupa tonjolan dan hanya suatu organ
spesifik. Sebagaimana telah dikemukakan Darwin,
diantara embrio hewan
yang berbeda terdapat
kemiripan yang lebih
banyak dari pada antara
hewan dewasa, dan
tidak mudah untuk
membedakan embrio manusia,
ikan, katak, dan ayam dalam tahap awal.
Perkembangan embrio berbagai spesies
yang termasuk kelas vertebrata menunjukkan adanya persamaan pada fase tertentu
yakni pada fase morulla, blastula, dan gastrula/awal embrio. Hal ini menunjukkan
adanya hubungan kekerabatan di antara hewan-hewan sesama vertebrata, yang
mungkin pula mereka memiliki satu nenek moyang. (Anonim 2012).
Ditinjau dari perkembangan embrio pada
hewan multiseluler, akan dijumpai kenyataan bahwa perkembangan mulai dari zigot
menunjukan bentuk yang hampir sama. Misalnya perkembangan pada blastula,
grastrula, namun dalam perkembangan selanjut-nya berbeda satu dengan yang lain
sehingga bentuk dewasanya menjadi sangat berbeda. Contohnya perbedaan antara
ikan, salamander, kura-kura, ayam, babi, sapi, kelinci dan mansuia sungguh
sangat berbeda, namun semua dimulai dari blastula dan grastrula serta embrio
yang hampir sama. Semua anggota Vertebrata dalam perkembangan embrionya
menunjukkan adanya persamaan.
Persamaan perkembangan embrio dimulai
dari tahap yakni peleburan sperma dengan ovum → zigot → pembelahan (cleavage) →
morulla → blastula → gastrula → tahap awal perkembangan embrio
. Mengenai perkembangan embrio Karl von
Baer, menyatakan bahwa:
a.
Sifat-sifat umum
muncul paling awal kemudian diikuti sifat-sifat khusus.
b. Perkembangan
dimulai dari yang umum sekali, kemudian kurang umum, dan akhirnya ke sifat-sifat
yang khusus.
c. Hewan
yang satu memisah secara progresif dari hewan yang lain.
d. Dalam
perkembangannya hewan-hewan multiseluler bentuk embrionya sama, tetapi kemudian
pada saat dewasa bentuknya menjadi berbeda-beda.
Adanya persamaan
perkembangan pada semua golongan Vertebrata, tersebut menunjukkan adanya
hubungan kekerabatan. Perkembangan individu mulai dari sel telur dibuahi hingga
individu itu mati disebut Ontogoni. Kalau kita bandingkan dengan filogeni,
yaitu sejarah perkembangan organisme dari filum yang paling sederhana hingga
yang paling sempurna, maka akan kita lihat adanya kesesuaian. Sehingga kita
dapat mengatakan bahwa ontogeni merupakan filogeni yang dipersingkat. Dengan
kata lain, ontogeni merupakan ulangan (rekapitulasi) dari filogeni
2.5 Biomolekuler
Sebagai Petunjuk Evolusi
Evolusi melekuler merupakan merupakan
proses evolusi yang terjadi pada skala DNA, RNA, dan protein. Secara garis besar,
evolusi molekuler ini membahas mengenai RNA, DNA, analisis filogenik, dan
evolusi eukariot. Evolusi molekuler muncul sebagai bidang ilmu pengetahuan pada
tahun 1960-an ketika peneliti dari bidang biologi molekuler, biologi evolusi, dan genetika populasi berusaha
memahami stuktur dan fungsi asam nukleat dan protein yang baru ditemukan.
Evolusi molekuler pada dasarnya menjelaskan dinamika perubahan evolusi pada
tingkat molekuler, bahasan pada evolusi molekuler itu meliputi perubahan materi
genetik (urutan DNA atau RNA) dan produknya serta rata-rata dan pola
perubahannya serta mengkaji pula sejarah evolusi organisme dan makromolekul
yang didukung data-data molekuler (filogeni molekuler). (Eksakta, 2012)
Dalam tinjauan
molekuler, evolusi merupakan perubahan susunan genetik pada generasi
yang berurutan. Untuk mengetahui evolusi, sangat baik untuk mengetahui
tentang genetika dari populasi (population genetic). Penelitian selama 30
tahun yang dilakukan oleh R.A. Fisher di Inggris dan S. Wright di Amerika
memperlihatkan bahwa evolusi tidak mengenai sebuah gen atau suatu individu,
tetapi melaui sekelompok gen atau sekumpulan individu yang disebut populasi.
(Anonim 2012)
Genetika individu selalu menyangkut
konsep genotipe yakni konstitusi genetika pada individu. Dan jika kita katakan
bahwa evolusi adalah perubahan dalam komposisi genetis dari populasi, maka yang
diartikan adalah suatu perubahan dari frekuensi genetis di dalam seluruh gen
(termasuk plasmagen) yang dimiliki semua individu dalam populasi tersebut.
(Yasin, 2010)
2.6 Variasi
Sebagai Petunjuk
Di dunia ini tidak pernah dijumpai dua
individu yang identik sama, bahkan anak kembar sekalipun pasti punya suatu
perbedaan. Demikian pula individu yang termasuk dalam satu spesies. Misalnya
perbedaan warna, ukuran, berat, kebiasaan, dan lain-lain. Jadi antar individu
dalam satu spesies pun terdapat variasi. Variasi adalah segala macam perbedaan
yang terdapat antar individu dalam satu spesies. Hal ini dapat terjadi karena
pengaruh berbagai faktor seperti suhu, tanah, makanan, dan habitat. Seleksi
yang dilakukan bertahun-tahun terhadap suatu spesies akan menyebabkan munculnya
spesies baru yang berbeda dengan moyangnya. Oleh karena itu adanya variasi
merupakan bahan dasar terjadinya evolusi yang menuju ke arah terbentuknya
spesies baru. (Anonim 2012)
Terdapat perubahan dan perkembangan yang mengarah pada evolusi bentuk dan
fungsi antara lain:
a.
Tubuh bertambah besar;
b.
Kepala bagian depan semakin panjang;
c.
Leher semakin panjang sehingga
gerakannya semakin bebas;
d.
Perubahan geraham depan dan geraham
besar sehingga sangat sesuai untuk makanan yang berupa rumput;
e.
Anggota tubuh yang lain semakin
bertambah panjang, sehingga sesuai dengan gerakan untuk berlari cepat;
f.
Jari kaki mereduksi dari lima menjadi satu, sehingga
dapat mendukung gerakan ketika berlari cepat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Beberapa petunjuk adanya evolusi, yaitu
: Peninggalan fosil di berbagai lapisan batuan bumi, Adanya alat-alat tubuh
yang tersisa, Bukti biogeografi, Peristiwa domestikasi, Perbandingan fisiologi,
Embriologi perbandingan, Variasi antar individu dalam satu keturunan,
Perbandingan genetic, Petunjuk secara biokimia, Bukti molekuler.
Contoh-contoh evolusi antara lain: Pithecanthropus
erectus, Pithecanthropus mojokertensis, Meganthropus palaeojavanicus.
Ada banyak alasan yang dapat digunakan untuk membuktikan bahwa evolusi memang
terjadi. Bukti-bukti evolusi yang dikemukakan pada makalah ini hanya beberapa
contoh yang mungkin akan mudah dimengerti. Evolusi dapat dibuktikan mulai dari
bukti skala kecil seperti pada pemuliaan anjing atau tumbuhan, homologi antara
suatu bagian dari organisme hingga menyangkut pada masalah yang lebih luas
seperti pembandingan data sistematik. Data-data yang ada saling mendukung bahwa
suatu proses yang universal telah berlangsung, yaitu proses evolusi abiotik
maupun proses evolusi biotik. Kedua-duanya bekerjasama ataupun saling
mempengaruhi hingga terbentuknya bumi sekarang. Data-data modern seperti data
genetika (DNA) dan data biokimia yang menunjukkkan betapa kesamaan yang besar
antara organisme eukariot mulai dari tanaman hingga manusia merupakan fakta
yang sangat meyakinkan mengenai proses evolusi.
3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini semoga bermanfaat bagi pembaca pada umumnya, dengan
adanya data bukti evolusi pada makalah ini semoga bisa menunjang pambelajaran.
Dalam penyusunan makalah ini kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
bagi kelancaran dan kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Bukti-Bukti
Evolusi. http://biologimediacentre.com/evolusi-pemahaman-teori-dan-bukti-evolusi/.Artikel. Diakses 15/04/2018.
Eksakta.R.S. 2012.
Bukti Evolusi. http://rizalsuhardieksakta. blogspot.com /2012/12/ bukti-evolusi
28.html.Artikel.Diakses 02/03/2013.
Yasin Sanjaya. 2010. Bukti
- Bukti Evolusi. http://www.sarjanaku.com/ 2010/02 / bukti-bukti-evolusi-variasi-genetika.html.Artikel.Diakses
15/04/2018.


Saya hadir Buk -Rifara Suci Yulika
ReplyDeleteOke
DeleteSaya selalu hadir buk
ReplyDeleteOke
DeleteSaya hadir terus buk
ReplyDeleteOke
Deletehadir buk
ReplyDeleteOke
Deletesaya hadir buk -Nila Silvia
ReplyDeleteOke
DeleteSaya hadir buk
ReplyDeleteOke
DeleteSaya hadir buk-Yesi Nia
ReplyDeleteOke
DeleteSaya hadir buk
ReplyDeleteOke
Deletehadirr
ReplyDeleteOke
DeleteAku hadir buk
ReplyDeleteOke
DeleteHdir buk
ReplyDeleteOke
Deletehadir buk
ReplyDeletesaya akan hadir buk
ReplyDeleteOke
DeleteSaya Hadir buk -Reni Mustika
ReplyDeleteOke
DeleteSaya hadir buk
ReplyDeleteOke
Delete